Selasa, 01 Oktober 2013

Penelitian Tindakan Kelas





                                                       Proposal Penelitian Tindakan Kelas



                                                                       OLEH



                                                               Johana Rosely, S.Pd.SD








BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi (BSNP, 2006). Untuk berbahasa dengan baik dan benar, maka diperlukan pendidikan dan pembelajaran bahasa Indonesia. Pendidikan dan pembelajaran bahasa Indonesia merupakan salah satu aspek penting yang perlu diajarkan kepada peserta didik di sekolah. Oleh karena itu pemerintah membuat kurikulum bahasa Indonesia yang wajib untuk diajarkan kepada peserta didik pada setiap jenjang pendidikan, yakni dari tingkat Sekolah Dasar (SD) sampai dengan Perguruan Tinggi (PT).
Pembelajaran bahasa Indonesia merupakan suatu tantangan tersendiri bagi seorang guru, mengingat bahasa ini bagi sebagian sekolah merupakan bahasa pengantar yang dipakai untuk menyampaikan materi pelajaran yang lain. Pembelajaran bahasa Indonesia berfungsi membantu peserta didik untuk mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat dengan menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imajinatif (Depdiknas, 2006).
1
 
Sesuai dengan kenyataan yang terjadi pada saat ini, mata pelajaran bahasa Indonesia sering diremehkan oleh sebagian besar peserta didik, bahkan dianggap sebagai mata pelajaran yang membosankan, khususnya dalam aspek menulis. Menurut Johana Pantow dkk (2002) yang tersedia dalam http://digilib.itb.ac.id pada tanggal 26 Januari 2008, menyatakan bahwa dalam dunia pendidikan, menulis merupakan suatu tuntutan keterampilan yang harus dikuasai oleh manusia sebagai bahasa tulis. Oleh karena itu, sejak dini pengajaran bahasa selalu harus didasarkan pada keterampilan bahasa dimana salah satunya adalah writing.
Kesulitan peserta didik dalam menulis biasanya terlihat ketika peserta didik diminta untuk menulis sebuah karangan sederhana, mendeskripsikan suatu benda ataupun ketika menulis puisi, mereka sering mengeluh dan terlihat bingung dengan apa yang ingin mereka tulis. Kebosanan, kejenuhan, serta kebingungan peserta didik dalam hal menulis yang mengakibatkan menurunnya prestasi belajar peserta didik dalam pembelajaran menulis dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain :
  1. Kurangnya minat peserta didik terhadap kegiatan menulis.
  2. Kurangnya motivasi peserta didik, baik dari dalam diri mereka maupun dari lingkungan belajar.
  3. Pengembangan strategi pembelajaran yang kurang membangkitkan daya imajinasi peserta didik dan kreativitas peserta didik dalam berbahasa maupun bersastra.
  4. Media yang digunakan dalam pembelajaran yang kurang sesuai sehingga peserta didik kurang bersemangat dalam belajar.
2
 
Menurunnya prestasi belajar peserta didik dapat dibuktikan dengan hasil tes pada mata pelajaran Bahasa Indonesia aspek menulis pada tanggal 15 Januari 2008, dengan tujuan pembelajaran mendeskripsikan binatang dengan bahasa tulis menggunakan media gambar yang dilaksanakan pada peserta didik kelas II SD Inpres Sahulalu Kabupaten Maluku Tengah. Dari tes tersebut diperoleh hasil tulisan peserta didik belum sempurna, karena penggunaan katanya belum tepat dan kalimatnya cenderung diulang-ulang sehingga tidak mudah untuk dipahami. Perolehan nilai rata-rata kelas yang seharusnya mencapai angka di atas 70, pada kenyatannya hanya mencapai angka 65, sehingga hanya 27% peserta didik yang memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) bahasa Indonesia dalam aspek menulis untuk kelas II semester II SDN 02 Pedawang Pekalongan. Dengan permasalahan yang telah diuraikan sebelumnya, maka guru harus mengambil tindakan, yakni dengan mencari dan menggunakan suatu pendekatan atau model pembelajaran yang efektif, inovatif, dan berpotensi memperbaiki pembelajaran menulis, sehingga meningkatkan minat, motivasi, dan sikap peserta didik terhadap pembelajaran menulis yang berakibat pada meningkatnya prestasi belajar peserta didik. Dengan demikian guru dapat merancang suatu bentuk pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan melalui pendekatan kontekstual dengan media gambar sebagai media alternatif dalam pemecahan masalah tersebut. 
Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata  peserta didik dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (Dikdasmen Diknas, 2002:1). Media gambar dimaksudkan untuk memudahkan peserta didik dalam mendeskripsikan seekor binatang dengan bahasa tulis. Media gambar digunakan dalam penelitian ini karena pola berpikir peserta didik kelas II yang masih memerlukan media pembelajaran yang konkrit. Dengan kedua hal tersebut diharapkan dapat meningkatkan keterampilan peserta didik kelas II SD Inpres Sahulalu Kabupaten Maluku Tengah dalam mendeskripsikan bintang dengan bahasa tulis.
B. Rumusan Masalah dan Rencana Pemecahan Masalah
1.   Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah pokok dalam penelitian ini adalah :
  • 3
     
    Apakah melalui pendekatan kontekstual dengan menggunakan media gambar binatang dapat meningkatkan keterampilan kelas II SD Inpres Sahulalu Kabupaten Maluku Tengah dalam mendeskripsikan binatang yang ada di sekitar dengan bahasa tulis?
  • Apakah melalui pendekatan kontekstual dengan media gambar dapat meningkatkan aktivitas peserta didik kelas II SD Inpres Sahulalu Kabupaten Maluku Tengah dalam pembelajaran?
  • Bagaimana keterampilan guru dalam proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual?
2.    Rencana Pemecahan Masalah
Masalah rendahnya prestasi belajar peserta didik kelas II SD Inpres Sahulalu Kabupaten Maluku Tengah dalam mendeskripsikan binatang di sekitar dengan bahasa tulis pada mata pelajaran Bahasa Indonesia ditindaklanjuti oleh guru dengan mengadakan penelitian tindakan kelas (PTK). Dalam hal ini, peserta didik diharapkan dapat mencapai tujuan pembelajaran dalam mendeskripsikan binatang dengan bahasa tulis menggunakan media gambar binatang. Penelitian tindakan kelas (PTK) tersebut dilakukan dalam tiga siklus. Setiap siklus terdiri dari perencaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi.   
4
 
Dalam penelitian tindakan kelas (PTK) tersebut, dilakukan dengan suatu pembelajaran yang inovatif dan diyakini dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik kelas II SD Inpres Sahulalu Kabupaten Maluku Tengah. Pembelajaran inovatif dalam penelitian ini menggunkan pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning), dengan media berupa gambar binatang sebagai media dalam pembelajaran individu (siklus I), puzzle (potongan gambar) seekor binatang sebagai media dalam pembelajaran berbasis kelompok (siklus II), puzzle (potongan gambar) beberapa binatang dalam satu lingkugan tempat hidupnya sebagai media untuk pembelajaran berbasis kelompok (siklus III). Ketiga media yang digunakan dalam PTK tersebut untuk merangsang keaktifan peserta didik dalam bertanya jawab tentang hal-hal yang berkaitan dengan gambar, serta untuk meningkatkan kreatifitas peserta didik dalam menyusun puzzle. Selain itu juga sebagai alat bantu dalam meningkatkan kemampuan peserta didik dalam medeskripsikan binatang dalam bentuk tulisan. Dengan penelitian tindakan tersebut, diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik dengan nilai rata-rata kelas dalam pencapaian tujuan tersebut yang telah dibuat dan ditentukan oleh SD Inpres Sahulalu Kabupaten Maluku Tengah.
C.  Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk :
  • Mengungkap suatu pendekatan atau model serta media pembelajaran yang dapat meningkatkan keterampilan peserta didik kelas II SD Inpres Sahulalu Kabupaten Maluku Tengah dalam mendeskripsikan binatang dengan bahasa tulis.
  • Mengungkap suatu pendekatan atau model pembelajaran serta media yang dapat meningkatkan aktivitas peserta didik kelas II SD Inpres Sahulalu Kabupaten Maluku Tengah dalam pembelajaran.
  • Mengetahui peningkatan keterampilan guru dalam pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning).
D. Manfaat Penelitian
1.    Manfaat Teoretis
Secara teoretis, penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat meningkatkan dan memperbaiki mutu pembelajaran menulis dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia pada peserta didik kelas II semester II dengan menggunakan media gambar binatang melalui pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning).
2.    Manfaat Praktis
a.  Bagi Peserta didik
5
 
Penelitan ini diharapkan dapat memberikan pengalaman bagi peserta didik dalam pembelajaran, sehingga peserta didik lebih termotivasi dalam belajar bahasa Indonesia, khususnya dalam aspek menulis. Dengan demikian, peserta didik dapat menyukai kegiatan menulis dan dapat mengembangkan kreativitas peserta didik dalam menuangkan berbagai ide, gagasan, serta pengalamannya dalam sebuah tulisan imajinatif yang dapat dinikmati oleh orang lain.
b.   Bagi Guru
Penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi guru, yakni dapat memberikan pengalaman dan wawasan bagi guru bahwa dalam membelajarkan bahasa Indonesia pada aspek menulis, khususnya bagi peserta didik kelas rendah yang membutuhkan suatu pendekatan dalam pembelajaran sehingga dapat memberikan rasa nyaman dan rasa senang pada peserta didik pada saat pembelajaran. Dengan demikian peserta didik dapat termotivasi dalam belajar dan akan berakibat pada pencapaian prestasi belajar yang maksimal dan sesuai dengan harapan.
c.  Bagi Sekolah
Penelitian tindakan ini dilakukan sebagai tolok ukur dalam peningkatan dan perbaikan mutu pembelajaran menulis di sekolah.













6
 
 
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Keterampilan Belajar
1. Pengertian Keterampilan Belajar
Definisi tentang keterampilan belajar seringkali didasarkan pada daftar keterampilan yang spesifik seperti mengorganisasi, memproses, dan menggunakan informasi yang diperoleh dari aktivitas membaca (Salinger, 1983). Barangkali definisi paling baik digunakan untuk menjelaskan keterampilan belajar adalah suatu keterampilan yang dapat mengembangkan kemandirian peserta didik dalam belajar (Dean, 1977 dalam Maher & Zins, 1987) Moh. Surya (1992 : 28) mengungkapkan bahwa keterampilan merupakan kegiatan-kegiatan yang bersifat neuromuscular, artinya menuntut kesadaaran yang tinggi. Dibandingkan dengan kebiasaan, keterampilan merupakan kegiatan yang lebih membutuhkan perhatian serta kemampuan intelektualitas, selalu berubah dan sangat disadari oleh individu.
Secara khusus, keterampilan belajar merupakan suatu teknik yang digunakan untuk memperoleh, mempertahankan, serta mengungkapkan pengetahuan dan merupakan cara untuk menyelesaikan persoalan (Marshak & Burkle, 1981 dalam Maher & Zins, 1987). Dalam memperoleh keterampilan belajar, peserta didik akan menyadari bagaimana cara belajar yang terbaik sehingga menjadi lebih bertanggungjawab terhadap kegiatan belajarnya.
2.  Hakikat Keterampilan
Hakikat keterampilan belajar meliputi empat unsur utama yaitu:
a.  Transformasi Persepsi Belajar
7
 
Dalam berbagai hal guna meningkatkan keahlian belajar dalam basic skills (membaca, menulis dan mendengar) ataupun dalam menangani rasa takut dan kecemasan. Transformasi ini tidak hanya melatih kemampuan kognitif saja akan tetapi juga meliputi domain afektif dan psikomotorik dari setiap orang. Sehingga mampu menunjukkan pemahaman tentang keterampilan dan strategi belajar yang diperlukan untuk sukses di sekolah.
b.  Keterampilan Manajemen Pribadi
Kemampuan menerapkan pengetahuan keterampilan belajar dan kekuatan (potensi) belajar yang dimilikinya untuk mengembangkan strategi guna memaksimalkan dan meningkatkan pembelajaran sehingga dapat meraih kesuksesan belajar di sekolah menengah.
c.  Interpersonal Dan Keterampilan Kerjasama Tim
Kemampuan mengidentifikasi dan menjelaskan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk sukses dalam hubungan interpersonal dan kerjasama tim. Selain itu, juga menunjukkan kemampuan yang tepat untuk menerapkan keterampilan interpersonal dan kerjasama tim dalam berbagai lingkungan belajar.
d.  Kesempatan Eksplorasi
Mengembangkan portofolio dokumen yang terkait dengan penilaian diri, penelitian, dan ekplorasi karir yang diperlukan untuk merencanakan jalur untuk keberhasilan sekolah menengah.
Keempat unsur itu merupakan ciri keterampilan belajar yang utuh yang sebenarnya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Dalam proses pembelajaran keterampilan belajar keempat unsur itu diharapkan dapat muncul, sehingga peserta didik dapat mengalami proses internalisasi keterampilan belajar di dalam sikap belajarnya secara utuh dan sempurna sehingga dapat mengurangi kemungkinan kebuntuan dalam belajar (learning shutdown).



8
 
 
3.  Tujuan Penerapan Keterampilan Belajar
Tujuan penerapan keterampilan belajar adalah sebagai berikut:
a.       Meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran.
b.      Menumbuhkan minat dan motivasi belajar.
c.       Membentuk peserta didik yang mandiri dalam belajar.
4.  Karakteristik Peserta didik yang Memiliki Keterampilan Belajar
Beberapa karakteristik peserta didik yang memiliki keterampilan belajar, antara lain :
a.       Percaya diri (Self-Esteem)
b.      Tidak menyandarkan diri pada orang lain (independence)
c.       Mampu merekonstruksi belajar sesuai dengan dirinya (mengorganisasi belajar)
d.      Mampu berinisiatif sendiri
e.       Bertanggung jawab (responsibility)
f.       Mampu berpikir logis dalam mengarahkan tujuan belajar
g.      Mempunyai kemampuan fleksibilitas dan adaptabilitas yang tinggi terhadap lingkungan
h.      Selalu mempunyai gagasan baru (kreatif)
B. Pengertian Media
Di dalam pengajaran dikenal beberapa istilah seperi peragaan atau keperagaan. Tetapi dewasa ini istilah keperagaan ini telah mulai dipopulerkan dengan istilah media. Kata media berasal dari bahasa latin dan secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepenerima pesan.
9
 
Arif. S. Sadiman ( 6:1999 ) yang mengutip pendapat Gagne menyebut media “ berbagai jenis komponen dalam lingkungan peserta didik yang dapat merangsangnya untuk belajar”. National Education Association ( NEA ) dalam abdul halim ( 11:2002 ) mendefinisikan media sebagai “ benda yang dapat dimanipulasi, dilihat, didengar, dibaca atau dibicarakan dan dipergunakan dalam kegiatan belajar mengajar “. Senada dengan itu Ruseffendi                ( 141:1993 ) menyatakan bahwa :
“ Media merupakan alat bantu untuk mempermudah peserta didik memahami konsep matematika. Alat bantu itu dapat berwujud benda kongkrit, seperti : batu-batuan, dan kacang-kacangan. Untuk menerapkan konsep bilangan, kubus ( bendanya ) untuk memperjelas konsep titik, ruas garis, daerah bujur sangkar dan wujud dari kubus itu sendiri, serta benda-benda bidang beraturan untuk menerangkan konsep bangun datar dan bangun ruang “.
Pendapat-pendapat di atas memiliki kesamaan yaitu media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima, sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat peserta didik, diharapkan hasil peserta didik belajar dapat ditingkatkan setelah menggunakan media.
1. Jenis-jenis Media
Media yang dapat digunakan dalam pembelajaran matematika pada tingkat sekolah dasar meliputu berbagai macam bentuk. Adapun jenis-jenis dari media adalah sebagai berikut :
(a) benda asli yang berada dilingkungan peserta didik. (b) papan planel. (c) lambing bilangan. (d) dekak-dekak. (e) model bangun datar. (f) papan berpaku. (g) model bangun ruang. Menurut Wina Sanjaya ( 2006:171) media yang digunakan harus sesuai dengan materi pembelajaran.

C. Pengertian Media Gambar
Bentuk umun dari media gamabar terangkum dalam pengertian dari media grafis. Karena media gambara merupakan bagian dari pembuatan media grafis. Sebelum kita nengetahui lebih lanjut mengenai media gambar ada baiknya kita mengetahui lebih dahulu pengertian dari media grafis.
10
 
Menurut (I Made Tegeh, 2008) media grafis atau graphic material adalah suatu media visual yang menggunakan titik-titik, garis-garis, gambar-gambar, tulisan, atau symbol visual yang lain dengan maksud untuk menikthisarkan, menggambarkan, dan merangkum suatu ide, data kejadian. Batasan tersebut member gambaran bahwa media grafis merupakan media dua dimensi yang dapat dinikmati dengan menggunakan indra pengelihatan.
Dari pengertian media grafis diatas kita dapat mengambil kesim[pulan bahwa memang benar media gambara merupakan bagian yang utuh dari media grafis tersebut karena pada dasarnya media gambara merupakan kumpulan dari beberapa titik dan garis yang memvisualisasikan gambara sebuah benda atau seorang tokoh yang dapat memperjelas kita dalam memahami benda atau tokoh tersebut.
Menurut  (I Made Tegeh, 2008) yang dimaksud media gambar dilihar dari pandangan media grafis adalah gambar gambar hasil lukisan tangan, hasil cetakan, dan hasil karya seni fotografi. Penyajian obyek dalam bentuk gambar dapat disajikan melalui bentuk nyata  maupun kreasi khayalan belaka sesuia dengan bentuk yang pernah dilihat oleh orang yang menggambarnya.
Kemampuan gambar dapat berbicara banyak dari seribu kata hal ini mempunyai makna bahwa gambar merupakan suatu ilustrasi yang memberikan pengertian dan penjelasan yang amat banyak dan lengkap dibandingkan kita hanya membaca dan  memebrikan suatu kejelasan pada sebuah masalah karena sifatnya yang lebih konkrit (nyata). Tujuan penggunaan gambar dalam pembelajaran adalah : (1) menerjemahkan symbol verbal, (2) mengkonkritkan dan memperbaiki kesan-kesan yang salah dari ilustrasi lisan. (3) memberikan ilustrasi suatu buku, dan (4) membangkitkan motivasi belajar dan menghidupkan suasana kelas.
11
 
Dalam pembelajaran di sekolah dasar media gambar sangat baik di gunakan dan di terapkan dalam proses belajar mengajar sebagai media pembelajaran karena media gambar ini cenderung sangat menarik hati siswa sehingga akan muncul motivasi untuk lebih ingin menegtahui tentang gamabar yang dijelaskan dan gurupun dapat menyampaikan materi dengan optimal melalui media gamabar tersebut.
C. Hasil Belajar
Darmansyah (2006:13) menyatakan bahwa hasil belajar adalah hasil penilaian terhadap kemampuan peserta didik yang ditentukan dalam bentuk angka. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan hasil belajar adalah hasil penilaian terhadap kemampuan peserta didik setelah menjalani proses pembelajaran.
Cece Rahmat ( dalam Zainal Abidin. 2004:1 ) mengatakan bahwa hasil belajar adalah “ Penggunaan angka pada hasil tes atau prosedur penilaian sesuai dengan aturan tertentu, atau dengan kata lain untuk mengetahui daya serap peserta didik setelah menguasai materi pelajaran yang telah diberikan.

 
 
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A.      Desain Penelitian
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas atau Classroom Actions Research,
2. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SD I
npres Sahulau Kabupaten Maluku Tengah
3.  Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada semester genap tahun pelajaran 2013
4.  Subjek Penelitian
Subjek penelitian adalah peserta didik kelas II SD I
npres Sahulau Kabupaten Maluku Tengah
5. Teknik Pengumpulan data
Data dalam penelitian ini diperoleh melalui :
a. Lembar observasi kinerja peserta didik dalam melakukan penelitian data ini ditentukan berdasarkan skala penilaian (amat kurang sampai dengan amat baik).
b. Laporan tertulis dari kegiatan penelitian yang dilakukan oleh peserta didik akan dinilai dengan rentang skor 0-100
c. Angket sikap peserta didik terhadap pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual
13
 
B. Perencanaan Tindakan
Langkah-langkah yang dilaksanakan pada tahap ini adalah
1. Merancang pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual
2. Menyusun alat test penjajagan sebagai evaluasi awal
3. Membuat lembar kegiatan peserta didik
4. Membuat instrumen observasi peserta didik dalam penelitian dan kinerja guru dalam proses pembelajaran.
5. Membuat lembar evaluasi untuk menilai laporan hasil penelitian peserta didik
6. Menyusun soal evaluasi hasil belajar
7. Membuat angket sikap peserta didik terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia menggunakan pendekatan kontekstual
C.  Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan dalam penelitian ini yaitu guru melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan perangkat pembelajaran yang telah dibuat.
D. Observasi
Mengamati pelaksanaan pembelajaran atau mengobservasi dilakukan saat pelaksanaan pembelajaran dan diskusi prestasi hasil penelitian oleh peserta didik.
E. Refleksi
Peneliti melakukan pembelajaran dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :
1. Kesesuaian pelaksanaan dengan perencanaan
2. Kendala atau kesulitan yang dialami
3. Kemajuan yang telah dicapai peserta didik
4. Rencana pembelajaran selanjutnya







14
 
 
DAFTAR PUSTAKA

-       Darmansyah. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. UNP
-       Mustoha. Amin, dkk, 2009. Senang Matematika, Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan
             Nasional.
-       Nana Sujana. 1989. Teori-teori Belajar Untuk Pengajaran. Bandung Ekonomi UI
-       Tim Penyusun KTSP, 2006. KTSP. Grobogan : Dinas Pendidikan.
-       Wardhani, I.G.A.K, dkk, 2008. Penelitian Tindakan Kelas, Pusat Penerbit Universitas     
                 Terbuka : Jakarta.
-       Zainal Abidin. 2004. Evaluasi Pengajaran. Padang. UNP

-       http://pendas2013.blogspot.com/2013/01/penggunaan-media-gambar-dalam-proses.html



15